hantamlebihkeras
SELAMAT DATANG !
Rabu, 20 Oktober 2010
manusia kodok
bergembira hingga tak peduli
bising sampai ku muak
merasa merdu suara
padahal sumbang juga
paling pintar dan retorik
paling jago dan aspiratif
sini, kukirimkan utk kalian sepasang jari tengah
berikut sumpalan mulut dari bensin kain dan botol kecap
jgn sok suci di depan media
kalian pun juga nggak jauh beda
selagi merah kuning hijau biru hitam
padi kapas bintang pohon tumbang kepala kabau masih berkoar-koar dgn suara sumbang kodok-kodok menyambut hujan ..
Tidak akan pernah kuberikan setetes tinta pun untuk juara kalian
hanya hadiah ini yang akan terus kuberikan ..
Sepasang jari tengah, bensin, kain dan botol kecap !!!
Selasa, 19 Oktober 2010
sejenak di 33
bahkan sudah tidak bisa membayangkan bagaimana pertama kali aku berdiri lalu berlari ..
yang masih teringat adalah ketika berlarian mengejar selebaran pamplet film sebuah bioskop yang namanya pun aku sdh lupa ..
atau ketika aku dibawa mengungsi dengan menumpang mobil pemadam kebakaran ketika rumah ku terbakar ..
atau ketika aku di ajari menggambar gajah oleh kakekku ..
atau ketika aku selalu dihidangkan ayang goreng utuh setiap kali hari minggu aku ke rumah nenekku..
atau ketika pertama kali liburan ke Jakarta naik bis 'BENTENG JAYA' ..
atau ketika menunggu kelahiran adikku yang ketiga ...
atau pada saat menunggu ibu ku yg sakit keracunan obat setelah melahirkan adikku yg ke empat ..
atau ketika pertama kali ditampar oleh bapakku ..
atau ketika meghisap rokok dikamar temanku ..
atau pertama kali di belikan gitar tapi sampai saat ini aku tidak mahir memainkannya ..
atau ketika pertama kali bermain drum ..
atau ketika pertama kali naik panggung sebagai vokalis ..
atau ketika pertama kali menantang para grinder diatas panggung utk masuk neraka ..
atau ketika kehilangan ibu ku ketika pagi ..
atau ketika kehilangan bapakku tanpa sempat minta maaf ..
atau ketika berbulan-bulan di jalan bersama kalian ..
ahhh .... masih terlalu banyak hal yg aku pikir sudah cukup aku ketahui ternyata tidak aku pahami sama sekali ..
di angka 33 ..
dan entah akan berhaenti di angka ke berapa ..
bagaimanapun juga aku sudah memiliki hidup indah ..
yup, itu ketika aku memilihmu dan memilikimu ..
yup, ketika aku berada di sampingmu pada saat dikau berjuang melahirkan buah hati pertama kita ..
yup, ketika aku menjadi ayah untuk kedua orang malaikat-malaikat kecil yang selalu mengingatkan aku untuk pulang ..
ahh .. waktu masih belum berpihak sehingga kita masih harus berjauhan ..
di angka 33 ..
dan entah akan berhenti diangka berapa ..
dan aku hanya mau berhenti ketika dunia pun berhenti ..
Sabtu, 21 Agustus 2010
AKU TERGANGGU !!
yup, aku sdh tidak peduli dgn kalian yg hanya beretorika di depan massa yg sebagian besar berharga 50 ribu per kepala bahkan hanya seharga nasi bungkus ..
lalu akan kalian tinggalkan, bahkan pos-pos pemenangan itu pun kembali kosong melompong ..
ya, karena tidak ada satu pun ide yg melekat di otak kalian selain menikmati empuknya rumah dinas, mobil dinas, mesin cuci dinas, laptop dinas, handphone dinas atau bahkan perempuan dinas ?? hagg !!
sdh malas bertanya .. atas maksud apa kalian mau bercerita dan berjanji kepada mereka tentang kesejahteraan ??
ahhhh … untuk apa aku tulis disini ?? BUKANKAH AKU SDH TIDAK PEDULI ??
haggg !! aku memang sdh tidak peduli tapi AKU TERGANGGU !!!
HEEYYY !!! ya yg aku maksud itu kamu, kamu dan kamu … yg dulu berada diantara barisan tantang tirani !!
sdh nyaman kah digedung itu ?? sehingga kalian lupa dgn debu jalanan !! sehingga kalian lupa dgn bensin, kain dan botol kecap ??
HEYY !!! aku benar-benar terganggu .. tidak kah kalian ??
Sabtu, 31 Juli 2010
membaca gejala dari jelaga-homicide

Matahari terlalu pagi mengkhianati
Pena terlalu cepat terbakar
Kemungkinan terbesar sekarang, memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan
Sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan untuk kemungkinan untuk berkata tidak mungkin
Tanpa darah mereka mengering
Sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi
Sebelum semua paru disesaki tragedi dan pengulangan menemukan maknanya sendiri dalam pasar dan semerbak deodoran
Atau mungkin dalam limbah dan kotoran
Atau mungkin dalam seragam sederetan nisan
Kita pernah bernazar
Untuk menantang awan
Menantang langit dengan kalam-kalam terhunus
Hingga hari-hari penghabisan
Tanpa pretense apapun untuk mengharapkan surga dan neraka
Di atas semua…
Kita berangkat dengan rima dan kopi secawan
Berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
Kita menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
Dimana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
Mengkafani kawanan serupa lalat dari pusat pembuangan sampah
Menyisakan potongan kalimat profane berceceran
Bernazar membuat tiran berjatuhan dengan luka sayat dari medan puputan
Kita tantang kutukan, kita kutuk pantangan
Sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
Serupa komando yang keluar dari mabes hingga koramil
Serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
Menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
Pada pantai, pada bumi, yang penuhi oleh barcode dan kasir
Yang menghibahkan filsafat pada vampire
Pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
Pada mereka yang datang pada malam terkelam
Saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
Kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
Pikulan beban yang serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari
Dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
Bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
Bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
Bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali
Dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
Sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
Kau dan aku tahu pahlawan tidak lagi datang dari kurusetra
Namun dalam bentuk dominasi mie instant di tengah bencana
Sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
Sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
Sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
Sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca
Telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
Semua melihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
Kita belajar membaca gejala dari jelaga
Pada malam-malam terhunus dan waras-waras kita terjaga
Memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
Menahan pitam tanpa riak serupa telaga
Serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
Pada setengah hidup kita mengalir mencari muara
Serupa udara
Membutuhkan amis darah agar sirine tetap mengalun
Agar waras diingatkan wabah yang akut menahun
Tentang pagut yang santun
Yang memusuhi pantun
Yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
Mungkin kau akan ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
Waktu singkat berubah menjadi rahmat
Merubah alam alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
Sekarang mengubahmu kasat di depan deretan kalimat
Bergabung dengan para mata yang terang bersama pekat
Serupa kepastian, serupa asuransi
Serupa janji yang memprediksi dimana kau suatu hari nanti dengan pasti
Sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati
Sehingga rimaku hari ini dan terompet israfil dapat bertukar posisi
Dan menantang mentari
semiotika rajatega-homicide
Hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin logika
Bicara tentang skill kompetisi, mengobral sompral
Jatuh setelah berkoar, lari dengan ujung kontol terbakar
MC butuh federasi dan breakbeats berdasi
Untuk sekantung wacana basi dan eksistensi
MC Tampon, mencoba membuat mall menjadi Saigon
Amunisi tanpa kanon, mucikari martir yang gagal mencari bondon
Sarat kritik, kosong esensi seperti khotbah kyai Golkar
Bongkar essay kacangan lulabi usang pasca makar
Gelora manuver rima Kahar Muzakar
Tak akan pernah dapat menyentuh beat pembebasan B-Boy Ali Asghar
Hiphop chauvinis, kontol kalian bau amis, memang tak akan pernah habis
Persis duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis
Krisis identitas, menyebut teman tongkrongannya 'niggaz'
Sebut dan diss nama kami, kubuat bacot kalian karam seperti Tampomas
Berusaha setengah mati menjadi negasi
Berlindung di belakang pembenaran interpretasi, basa-basi
Mengobarkan kebanggaan dengan microphone terseret
Tak sabar menunggu saat monumental kalian berduet dengan Eurrico Guterrez
Ternyata rencana invasimu lebih meleset dari konsepsi
Dan prediksi partai marxist akan kematian borjuasi
Melemparkan invitasi MC pada setiap rima
Dan Homicide masih mendominasi sensus kematian populasi akibat rajasinga
MC adalah negara yang membuat kontradiksi tak pernah final
Tanpa manifestasi yang sesubstansial gerilyawan maoist di Nepal
Lirikal neoliberal, yang memaksa indeks lirikmu turun drastis
Dan terlihat lebih dungu dari logika formal, terlalu tipikal
Dan masih jauh dibawah horizon minimal
Memiliki nasib yang sama dengan PSSI dalam kancah internasional
Hadirkan konfrontasi maka MC lari mencari pengacara
Dan mengakhiri argumen dengan histeria seperti Yudhistira tanpa hak cipta
Jangan berharap unggul dengan skill bualan ala TV Media
Yang membuatmu dan Iwa tersungkur dalam satu kriteria
Representasi yang membuatmu nampak seperti fatamorgana
Membuat setiap microphone battle berakhir dengan wajah yang sama
Persetan dengan persatuan, hiphop hanya memiliki empat unsur
Dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur
Memang memuakkan melayani diplomasi scene lawakan
Tapi pasti kalian dapatkan jika kalian ingin konflik atas nama kebanggaan
Bidani bacot imortalitas hiphop murahan seperti liang dubur
membuat lagu lama konservatif keluar liang kubur
Karena aku adalah seorang kapiten neraka mematahkan pedang panjang para lokalis duplikat dan plagiat para Wu-Tang
Arwah objek kritik lapuk layak sosialisme ilmiah
Mencoba mengancam dengan lulabi akidah
Paku dalam bingkai kaca keagungan moralitas, persetan kuantitas
Kematian memang identitas yang tak perlu imortalitas
Label adalah reduksi
Komoditas residu industri
Kultural hegemoni
Membidani oponen dalam posisi
Prosa pramudya yang bukan Ananta Toer
Mengepal jemari meski dengan batas teritori yang terkubur
Me-manage kalbu tanpa retorika Aa Gymnastiar
Menembus urat nadi distribusi tanpa harus membuat izinku terdaftar
MC menabur bensin dan tak pernah punya nyali menyalakan korek
Membacot dibelakang punggung lebih parah dari CekNRicek
MC yang sama petantang-petenteng
Sekarang membawa icon peace lebih banyak dari para anggota Slank
Kalian para martir hiphop
Patriot tai kucing
Yang membela lubang pantat logika dengan darah
Siapkan microphone kalian dan siapkan untuk menutup lubang tai sejarah
Dan bagi kalian yang menginterpretasikan lagu ini untuk kalian..
Lebok tah Anjing!!
megatukad-homicide
hasrat ditngah rawa/ mengasah mata belati penasbihan petaka/ bagi mata medusa
yang tak berujung menagih nyawa/ bagi kuasa yang mengendalikan parlemen dan
penjara/ menyambut petang berhala, ku tunjukkan kau gejala/ didepan pintu
McDonalds dan gerbang Kodam berkepala/ macan siliwangi yang dipenggal ribuan
terdakwa/ air sumur berbusa, langit sehitam jelaga/ udara bertaringmemaksa rima
ini berbisa/ dank au iman yang menghamba pada keabadian pusara/ kubacakan serat
korporat yang mengglobalkan angkara/ rahim samsara yang terjaga pasca bencana/
pasca iman disilaukan kilatan C-4 dan surga/ dan pasca jaring warasku yang
mulai menyaingi utopia/ semustahil berharap dunia pasca 9-11 tanpa tentara/ tanpa
antara kukabarkan perihal neraka/ perihal SODOM-GOMMORAH, gurah dan semua
barisan berhala/ yang kau pijak kau jadikan jalur sumber pahala/ dan kau tebus
semua surga dengan bangkai para pendosa/ rima serupa sangkala prosa penolak
bala/ hiphop hulu waktu dengan pekat sehitam bendera/ bukan lagi perkara bukan
lagi masalah jika/ ribuan mimpi, satu barisan rubuhkan menara
Bentangan kalam serupa bara, satuan rima penolak bala
Kepalan langitan gantang bencana, seharam jadah penagih
nyawa
Homicide kembali pada bentangan kalam serupa martil/ prosa
ababil, ziarah kesumat demolisi kastil/ serupa menarik tentara dari Freeport,
rima ini mustahil/ kalian kubur bersama sejarah di pemakaman terusir/ negasi
yang berdiri kala valhala tak berpinggir/ demokrasi dagelan boneka tirani mesin
kasir/ koalisi kobil, yang meminta setoran parker/ serupa darah dan satir dan
pengabdian tanpa akhir/ rima kontra takdir, cetak biru korporat vampire/ tata
dunia baru memaksa rima ini bertitik nadir/ konspirasi tanpa akhir dan arwah
pembangkang sipil/ antidote keterasingan dalam kepakan sayap martir/ serupa
lobi parlemen menggiring para musafir/ ke padang kepatuhan ujung laras para
mariner/ nazarkan hidup tanpa sipir dan ujung harap yang lahir/ demi surga dan
janji para pahlawan usang yang tak pernah hadir/ armament imaji dalam magasin
barisan sabil/ hunusan trakhir, pelumatan manual para kusir/ harapan yang
menolak saji hamba dimuka takdir/ bersama para sodagar menyusun jutaan tafsir/
rima serupa sangkala prosa penolak bala/ hiphop hulu waktu dengan pekat sehitam
bendera/ bukan lagi perkara bukan lagi masalah jika/ ribuan mimpi, satu barisan
rubuhkan menara.
illsurekshun-homicide
“YEAAHH!! Kalam kutukan puputan penasbihan penghabisan,..
Illshurekshun for Impending resurrection!
Hari ini atau tidak sama sekali,.. Hari ini atau tidak sama sekali,.!!
Yo Sarkasz,. show’ em how we do it boy,..C’ MON!!”
[Sarkasz]
melepas kekang kendali pada hitungan detik kematian
satuan laskar aksara penghancuran dinding keterasingan
rima ini melintang ditengah ribuan riba yang menagih hutang
rintangi bantuan luar negeri yang bernegosiasi dengan bahasa musang
menghunus belati kalam profan pada altar persetubuhan
yang berbagi tuhan bersama kuasa modal dalam wujud siluman berturban
mutan susupan Mc D layaknya iblis marduk yang membuang pelanduk
merangsek setiap pintu masuk yang tak fitrah tanpa sarung cap gajah duduk
tak sudi membusuk menanti panggilan di parkiran imam mahdi
dalam simulasi hidup yang meraga dalam masturbasi raam punjabi
kami tandingi setiap eksistensi dari sekedar menjual dan membeli
menyembah dan mematuhi segala konon yang tak lama lagi kamu akhiri
kami kembali mengangkat setiap kepala yang tertunduk untuk berhenti
meratapi tuhan yang telah mati dikhianati profit, dominasi dan ekspansi
satu barisan ribuan mimpi kami hidupkan kuasa amorfati
yang berdiri tegak mandiri tanpa bank mandiri
hiphop harakiri negasi hidup dari lanskap yang terkooptasi
di saat setiap bongkahan emas di freeport telah lelah menjadi saksi
korporat rambo dan kacung WTO yang tengah bermimpi
berkomposisi bak guantanamo sekolosal mega-orkestra steve albini
kalian amini manipulasi informasi yang beramunisi ritual dekadensi
berplot genosida berkoneksi kabel tv
maka surga neraka yang kami hadirkan dalam kombinasi terkini
biner termutilasi pada setiap lanskap insureksi yang mereka kafiri
“Yo word to the Morgue Vanguard, Sarkasz is back for the M-I-C
Still droppin shit like ‘em based on jeep beats
Illshurekshun to the fullest,..
Yo MV, get down (?) one time, C’MON!!”
[Morgue Vanguard]
ribuan kepala yang mengakar pada reruntuhan atlas
meranggas pada batas hirarki antara mikropon dan karkas
hari ini mulailah berhenti mempertanyakan kualitas
gundukan rima dengan populasi MC yang lebih padat dari cicadas
sepanas lubang anus kalian disodomi korporasi tanpa pelumas
kami bayar lunas semua tagihan pay dues sejak jaman itang yunas
kami pangkas semua manuver ken arok ditengah belukar riba pasar
agen makar membuang hajat pada pelataran dan tangga altar
kami hajar semua kebangkitan berhala, ideologi gembala
hidup yang menolak bergantung pada saudagar serupa Yusuf Kalla
para imam korporasi yang khusuk di kala merancang sangkala tiruan
yang ditunggangi zionis imperialis yang coba menabur bala
rima ini adalah Kayutsha, Sahin, Fajr dan Zetzal
Penghantam barisan produk korporasi pemasok Israel di toserba yang berjejal
Pelumatan kollateral, kombatan prosa hypereal
Plot pencahar agenda laskar laba yang lebih Tsar dari semua tiran dan kaisar
Satuan lingkar risalah yang hidup dari kepulan asap
Yang kami hisap dari manual hisab lapangan mu yang terbakar
Rima ini lebih sakti dari Pancasila, yang siap menantang invasi
Dari jadah global Sony hingga korporat domestik serupa Bakrie
Kontra-takdir serupa satuan sayap ababil yang menabur kerikil
Pada jalur komando dari Pentagon hingga Kodam, Kodim dan Koramil
Pada kontrak para merkantil yang menggadai Cepu pada Exxon Mobil
Kami rakit ribuan prosa martil
Bagi mesin lobi Rupert Murdoch yang menagih martir,..
“YEAHHAHAHA!! Homicide kembali pada penyangkalan serupa bara
Kami maklumatkan penasbihan kepalan yang berhitung dengan penyeragaman bawah sadar
Bagi semua kawan yang bertahan hingga nafas penghabisan,..
Kita panjatkan pada semesta, kalam kutukan puputan,.C’MOON!!”
HO!! HO!!HO!!HO!!HO!! HO!! HO!!HO!!