SELAMAT DATANG !

Selamat datang ...
berpikir ... berbicara .. bertindak ...
apakah nikmat ..
jika tidak ...
aku berpikir untuk ...
berbicara dengan kalian ...
tentang apa tindakan ...
menyelamatkan kenikmatan hidup ..
agar surga tidak perlu di beli dgn tetesan darah ...

Rabu, 20 Oktober 2010

manusia kodok

Bernyanyi dikala hujan
bergembira hingga tak peduli
bising sampai ku muak
merasa merdu suara
padahal sumbang juga
paling pintar dan retorik
paling jago dan aspiratif
sini, kukirimkan utk kalian sepasang jari tengah
berikut sumpalan mulut dari bensin kain dan botol kecap
jgn sok suci di depan media
kalian pun juga nggak jauh beda
selagi merah kuning hijau biru hitam
padi kapas bintang pohon tumbang kepala kabau masih berkoar-koar dgn suara sumbang kodok-kodok menyambut hujan ..
Tidak akan pernah kuberikan setetes tinta pun untuk juara kalian
hanya hadiah ini yang akan terus kuberikan ..
Sepasang jari tengah, bensin, kain dan botol kecap !!!

Selasa, 19 Oktober 2010

sejenak di 33

waktu yang lama untuk belajar, mengerti, memahami dan melakukan ..
bahkan sudah tidak bisa membayangkan bagaimana pertama kali aku berdiri lalu berlari ..
yang masih teringat adalah ketika berlarian mengejar selebaran pamplet film sebuah bioskop yang namanya pun aku sdh lupa ..
atau ketika aku dibawa mengungsi dengan menumpang mobil pemadam kebakaran ketika rumah ku terbakar ..
atau ketika aku di ajari menggambar gajah oleh kakekku ..
atau ketika aku selalu dihidangkan ayang goreng utuh setiap kali hari minggu aku ke rumah nenekku..
atau ketika pertama kali liburan ke Jakarta naik bis 'BENTENG JAYA' ..
atau ketika menunggu kelahiran adikku yang ketiga ...
atau pada saat menunggu ibu ku yg sakit keracunan obat setelah melahirkan adikku yg ke empat ..
atau ketika pertama kali ditampar oleh bapakku ..
atau ketika meghisap rokok dikamar temanku ..
atau pertama kali di belikan gitar tapi sampai saat ini aku tidak mahir memainkannya ..
atau ketika pertama kali bermain drum ..
atau ketika pertama kali naik panggung sebagai vokalis ..
atau ketika pertama kali menantang para grinder diatas panggung utk masuk neraka ..
atau ketika kehilangan ibu ku ketika pagi ..
atau ketika kehilangan bapakku tanpa sempat minta maaf ..
atau ketika berbulan-bulan di jalan bersama kalian ..
ahhh .... masih terlalu banyak hal yg aku pikir sudah cukup aku ketahui ternyata tidak aku pahami sama sekali ..
di angka 33 ..
dan entah akan berhaenti di angka ke berapa ..
bagaimanapun juga aku sudah memiliki hidup indah ..
yup, itu ketika aku memilihmu dan memilikimu ..
yup, ketika aku berada di sampingmu pada saat dikau berjuang melahirkan buah hati pertama kita ..
yup, ketika aku menjadi ayah untuk kedua orang malaikat-malaikat kecil yang selalu mengingatkan aku untuk pulang ..
ahh .. waktu masih belum berpihak sehingga kita masih harus berjauhan ..
di angka 33 ..
dan entah akan berhenti diangka berapa ..
dan aku hanya mau berhenti ketika dunia pun berhenti ..

Sabtu, 21 Agustus 2010

AKU TERGANGGU !!

yup, aku sdh tidak peduli dgn kalian yg hanya beretorika di depan massa yg sebagian besar berharga 50 ribu per kepala bahkan hanya seharga nasi bungkus ..

lalu akan kalian tinggalkan, bahkan pos-pos pemenangan itu pun kembali kosong melompong ..

ya, karena tidak ada satu pun ide yg melekat di otak kalian selain menikmati empuknya rumah dinas, mobil dinas, mesin cuci dinas, laptop dinas, handphone dinas atau bahkan perempuan dinas ?? hagg !!

sdh malas bertanya .. atas maksud apa kalian mau bercerita dan berjanji kepada mereka tentang kesejahteraan ??

ahhhh … untuk apa aku tulis disini ?? BUKANKAH AKU SDH TIDAK PEDULI ??

haggg !! aku memang sdh tidak peduli tapi AKU TERGANGGU !!!

HEEYYY !!! ya yg aku maksud itu kamu, kamu dan kamu … yg dulu berada diantara barisan tantang tirani !!

sdh nyaman kah digedung itu ?? sehingga kalian lupa dgn debu jalanan !! sehingga kalian lupa dgn bensin, kain dan botol kecap ??

HEYY !!! aku benar-benar terganggu .. tidak kah kalian ??

Sabtu, 31 Juli 2010

membaca gejala dari jelaga-homicide



Matahari terlalu pagi mengkhianati
Pena terlalu cepat terbakar
Kemungkinan terbesar sekarang, memperbesar kemungkinan pada ruang ketidakmungkinan
Sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satupun sudut kemungkinan untuk kemungkinan untuk berkata tidak mungkin
Tanpa darah mereka mengering
Sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi

Sebelum semua paru disesaki tragedi dan pengulangan menemukan maknanya sendiri dalam pasar dan semerbak deodoran
Atau mungkin dalam limbah dan kotoran
Atau mungkin dalam seragam sederetan nisan

Kita pernah bernazar
Untuk menantang awan
Menantang langit dengan kalam-kalam terhunus
Hingga hari-hari penghabisan
Tanpa pretense apapun untuk mengharapkan surga dan neraka
Di atas semua…

Kita berangkat dengan rima dan kopi secawan
Berkawan dengan bentangan kalam yang menantang awan
Kita menggalang pijakan dari hulu waktu yang membidani zaman
Dimana microphone digenggam dengan hasrat menggantang ancaman
Mengkafani kawanan serupa lalat dari pusat pembuangan sampah
Menyisakan potongan kalimat profane berceceran
Bernazar membuat tiran berjatuhan dengan luka sayat dari medan puputan
Kita tantang kutukan, kita kutuk pantangan
Sehingga setiap angan paralel dengan surga-neraka dan dalil langitan
Serupa komando yang keluar dari mabes hingga koramil
Serupa toxin yang berselancar pada darah sebelum maut menjemput Munir
Menyisir petaka yang membiarkan mereka menggadaikan pasir
Pada pantai, pada bumi, yang penuhi oleh barcode dan kasir
Yang menghibahkan filsafat pada vampire
Pada mereka yang melabeli setiap oponen dengan stempel kafir
Pada mereka yang datang pada malam terkelam
Saat cahaya hanya datang dari belukar di tengah makam
Kita pernah sisakan harapan yang esok siap cor menjadi belati
Pikulan beban yang serupa pitam yang kembali berhitung dengan mentari

Dengan tangisan bayi yang mengajarkan kembali bagaimana menari
Bagaimana mengingat janji dan mengepalkan jemari
Bagaimana seharusnya hari-hari berbagi api
Bagaimana menyulutnya pada nadi dan mengumpulkan nyali
Dan semua darah bertagih telah kita bayar lunas
Sejak kalimat angkara kita terlanjur menjadi lampiran kajian Lemhanas
Kau dan aku tahu pahlawan tidak lagi datang dari kurusetra
Namun dalam bentuk dominasi mie instant di tengah bencana
Sejak tanah basah ini menagih janji mata yang dibayar mata
Sejak mata sungai menagih suara mereka yang hilang di ujung desa
Sejak kebebasan hanya berarti di hadapan kotak suara
Sejak para ekonom memperlakukan nasib serupa statistik ramalan cuaca
Telah khatam kita baca semua analisa semua neraca
Semua melihat tai kucing yang membenarkan semua prasangka
Kita belajar membaca gejala dari jelaga
Pada malam-malam terhunus dan waras-waras kita terjaga
Memaksa tidur dengan satu kelopak mata terbuka
Menahan pitam tanpa riak serupa telaga
Serupa hasrat yang dipertahankan setengah mati tetap menyala
Pada setengah hidup kita mengalir mencari muara
Serupa udara
Membutuhkan amis darah agar sirine tetap mengalun
Agar waras diingatkan wabah yang akut menahun
Tentang pagut yang santun
Yang memusuhi pantun
Yang membakar habis hasratmu setelah dipaksa dipasung
Mungkin kau akan ingat tentang petaka yang dalam hitungan kurun
Waktu singkat berubah menjadi rahmat
Merubah alam alam bawah sadar hingga terbiasa dengan mayat
Sekarang mengubahmu kasat di depan deretan kalimat
Bergabung dengan para mata yang terang bersama pekat

Serupa kepastian, serupa asuransi
Serupa janji yang memprediksi dimana kau suatu hari nanti dengan pasti
Sehingga semua pertanyaan kau tinggal mati
Sehingga rimaku hari ini dan terompet israfil dapat bertukar posisi
Dan menantang mentari

semiotika rajatega-homicide

MC hari ini lebih banyak menggunakan topeng dari Zapatista
Hampir sulit membedakan antara bacot patriot dan miskin logika
Bicara tentang skill kompetisi, mengobral sompral
Jatuh setelah berkoar, lari dengan ujung kontol terbakar
MC butuh federasi dan breakbeats berdasi
Untuk sekantung wacana basi dan eksistensi
MC Tampon, mencoba membuat mall menjadi Saigon
Amunisi tanpa kanon, mucikari martir yang gagal mencari bondon
Sarat kritik, kosong esensi seperti khotbah kyai Golkar
Bongkar essay kacangan lulabi usang pasca makar
Gelora manuver rima Kahar Muzakar
Tak akan pernah dapat menyentuh beat pembebasan B-Boy Ali Asghar
Hiphop chauvinis, kontol kalian bau amis, memang tak akan pernah habis
Persis duet Hitler tanpa kumis dan Earth Crisis
Krisis identitas, menyebut teman tongkrongannya 'niggaz'
Sebut dan diss nama kami, kubuat bacot kalian karam seperti Tampomas
Berusaha setengah mati menjadi negasi
Berlindung di belakang pembenaran interpretasi, basa-basi
Mengobarkan kebanggaan dengan microphone terseret
Tak sabar menunggu saat monumental kalian berduet dengan Eurrico Guterrez

Ternyata rencana invasimu lebih meleset dari konsepsi
Dan prediksi partai marxist akan kematian borjuasi
Melemparkan invitasi MC pada setiap rima
Dan Homicide masih mendominasi sensus kematian populasi akibat rajasinga
MC adalah negara yang membuat kontradiksi tak pernah final
Tanpa manifestasi yang sesubstansial gerilyawan maoist di Nepal
Lirikal neoliberal, yang memaksa indeks lirikmu turun drastis
Dan terlihat lebih dungu dari logika formal, terlalu tipikal
Dan masih jauh dibawah horizon minimal
Memiliki nasib yang sama dengan PSSI dalam kancah internasional
Hadirkan konfrontasi maka MC lari mencari pengacara
Dan mengakhiri argumen dengan histeria seperti Yudhistira tanpa hak cipta
Jangan berharap unggul dengan skill bualan ala TV Media
Yang membuatmu dan Iwa tersungkur dalam satu kriteria

Representasi yang membuatmu nampak seperti fatamorgana
Membuat setiap microphone battle berakhir dengan wajah yang sama
Persetan dengan persatuan, hiphop hanya memiliki empat unsur
Dua mikrofon, kau dan aku, tentukan siapa yang lebih dulu tersungkur

Memang memuakkan melayani diplomasi scene lawakan
Tapi pasti kalian dapatkan jika kalian ingin konflik atas nama kebanggaan
Bidani bacot imortalitas hiphop murahan seperti liang dubur
membuat lagu lama konservatif keluar liang kubur
Karena aku adalah seorang kapiten neraka mematahkan pedang panjang para lokalis duplikat dan plagiat para Wu-Tang
Arwah objek kritik lapuk layak sosialisme ilmiah
Mencoba mengancam dengan lulabi akidah
Paku dalam bingkai kaca keagungan moralitas, persetan kuantitas
Kematian memang identitas yang tak perlu imortalitas
Label adalah reduksi
Komoditas residu industri
Kultural hegemoni
Membidani oponen dalam posisi
Prosa pramudya yang bukan Ananta Toer
Mengepal jemari meski dengan batas teritori yang terkubur

Me-manage kalbu tanpa retorika Aa Gymnastiar
Menembus urat nadi distribusi tanpa harus membuat izinku terdaftar
MC menabur bensin dan tak pernah punya nyali menyalakan korek
Membacot dibelakang punggung lebih parah dari CekNRicek

MC yang sama petantang-petenteng
Sekarang membawa icon peace lebih banyak dari para anggota Slank
Kalian para martir hiphop
Patriot tai kucing
Yang membela lubang pantat logika dengan darah
Siapkan microphone kalian dan siapkan untuk menutup lubang tai sejarah
Dan bagi kalian yang menginterpretasikan lagu ini untuk kalian..
Lebok tah Anjing!!

megatukad-homicide

Homicide kembali pada kalam serupa bara/ menjaga nyala api
hasrat ditngah rawa/ mengasah mata belati penasbihan petaka/ bagi mata medusa
yang tak berujung menagih nyawa/ bagi kuasa yang mengendalikan parlemen dan
penjara/ menyambut petang berhala, ku tunjukkan kau gejala/ didepan pintu
McDonalds dan gerbang Kodam berkepala/ macan siliwangi yang dipenggal ribuan
terdakwa/ air sumur berbusa, langit sehitam jelaga/ udara bertaringmemaksa rima
ini berbisa/ dank au iman yang menghamba pada keabadian pusara/ kubacakan serat
korporat yang mengglobalkan angkara/ rahim samsara yang terjaga pasca bencana/
pasca iman disilaukan kilatan C-4 dan surga/ dan pasca jaring warasku yang
mulai menyaingi utopia/ semustahil berharap dunia pasca 9-11 tanpa tentara/ tanpa
antara kukabarkan perihal neraka/ perihal SODOM-GOMMORAH, gurah dan semua
barisan berhala/ yang kau pijak kau jadikan jalur sumber pahala/ dan kau tebus
semua surga dengan bangkai para pendosa/ rima serupa sangkala prosa penolak
bala/ hiphop hulu waktu dengan pekat sehitam bendera/ bukan lagi perkara bukan
lagi masalah jika/ ribuan mimpi, satu barisan rubuhkan menara



Bentangan kalam serupa bara, satuan rima penolak bala

Kepalan langitan gantang bencana, seharam jadah penagih
nyawa



Homicide kembali pada bentangan kalam serupa martil/ prosa
ababil, ziarah kesumat demolisi kastil/ serupa menarik tentara dari Freeport,
rima ini mustahil/ kalian kubur bersama sejarah di pemakaman terusir/ negasi
yang berdiri kala valhala tak berpinggir/ demokrasi dagelan boneka tirani mesin
kasir/ koalisi kobil, yang meminta setoran parker/ serupa darah dan satir dan
pengabdian tanpa akhir/ rima kontra takdir, cetak biru korporat vampire/ tata
dunia baru memaksa rima ini bertitik nadir/ konspirasi tanpa akhir dan arwah
pembangkang sipil/ antidote keterasingan dalam kepakan sayap martir/ serupa
lobi parlemen menggiring para musafir/ ke padang kepatuhan ujung laras para
mariner/ nazarkan hidup tanpa sipir dan ujung harap yang lahir/ demi surga dan
janji para pahlawan usang yang tak pernah hadir/ armament imaji dalam magasin
barisan sabil/ hunusan trakhir, pelumatan manual para kusir/ harapan yang
menolak saji hamba dimuka takdir/ bersama para sodagar menyusun jutaan tafsir/
rima serupa sangkala prosa penolak bala/ hiphop hulu waktu dengan pekat sehitam
bendera/ bukan lagi perkara bukan lagi masalah jika/ ribuan mimpi, satu barisan
rubuhkan menara.

illsurekshun-homicide

[Morgue Vanguard]
“YEAAHH!! Kalam kutukan puputan penasbihan penghabisan,..
Illshurekshun for Impending resurrection!
Hari ini atau tidak sama sekali,.. Hari ini atau tidak sama sekali,.!!
Yo Sarkasz,. show’ em how we do it boy,..C’ MON!!”

[Sarkasz]
melepas kekang kendali pada hitungan detik kematian
satuan laskar aksara penghancuran dinding keterasingan
rima ini melintang ditengah ribuan riba yang menagih hutang
rintangi bantuan luar negeri yang bernegosiasi dengan bahasa musang
menghunus belati kalam profan pada altar persetubuhan
yang berbagi tuhan bersama kuasa modal dalam wujud siluman berturban
mutan susupan Mc D layaknya iblis marduk yang membuang pelanduk
merangsek setiap pintu masuk yang tak fitrah tanpa sarung cap gajah duduk
tak sudi membusuk menanti panggilan di parkiran imam mahdi
dalam simulasi hidup yang meraga dalam masturbasi raam punjabi
kami tandingi setiap eksistensi dari sekedar menjual dan membeli
menyembah dan mematuhi segala konon yang tak lama lagi kamu akhiri
kami kembali mengangkat setiap kepala yang tertunduk untuk berhenti
meratapi tuhan yang telah mati dikhianati profit, dominasi dan ekspansi
satu barisan ribuan mimpi kami hidupkan kuasa amorfati
yang berdiri tegak mandiri tanpa bank mandiri
hiphop harakiri negasi hidup dari lanskap yang terkooptasi
di saat setiap bongkahan emas di freeport telah lelah menjadi saksi
korporat rambo dan kacung WTO yang tengah bermimpi
berkomposisi bak guantanamo sekolosal mega-orkestra steve albini
kalian amini manipulasi informasi yang beramunisi ritual dekadensi
berplot genosida berkoneksi kabel tv
maka surga neraka yang kami hadirkan dalam kombinasi terkini
biner termutilasi pada setiap lanskap insureksi yang mereka kafiri

“Yo word to the Morgue Vanguard, Sarkasz is back for the M-I-C
Still droppin shit like ‘em based on jeep beats
Illshurekshun to the fullest,..
Yo MV, get down (?) one time, C’MON!!”

[Morgue Vanguard]
ribuan kepala yang mengakar pada reruntuhan atlas
meranggas pada batas hirarki antara mikropon dan karkas
hari ini mulailah berhenti mempertanyakan kualitas
gundukan rima dengan populasi MC yang lebih padat dari cicadas
sepanas lubang anus kalian disodomi korporasi tanpa pelumas
kami bayar lunas semua tagihan pay dues sejak jaman itang yunas
kami pangkas semua manuver ken arok ditengah belukar riba pasar
agen makar membuang hajat pada pelataran dan tangga altar
kami hajar semua kebangkitan berhala, ideologi gembala
hidup yang menolak bergantung pada saudagar serupa Yusuf Kalla
para imam korporasi yang khusuk di kala merancang sangkala tiruan
yang ditunggangi zionis imperialis yang coba menabur bala
rima ini adalah Kayutsha, Sahin, Fajr dan Zetzal
Penghantam barisan produk korporasi pemasok Israel di toserba yang berjejal
Pelumatan kollateral, kombatan prosa hypereal
Plot pencahar agenda laskar laba yang lebih Tsar dari semua tiran dan kaisar
Satuan lingkar risalah yang hidup dari kepulan asap
Yang kami hisap dari manual hisab lapangan mu yang terbakar
Rima ini lebih sakti dari Pancasila, yang siap menantang invasi
Dari jadah global Sony hingga korporat domestik serupa Bakrie
Kontra-takdir serupa satuan sayap ababil yang menabur kerikil
Pada jalur komando dari Pentagon hingga Kodam, Kodim dan Koramil
Pada kontrak para merkantil yang menggadai Cepu pada Exxon Mobil
Kami rakit ribuan prosa martil
Bagi mesin lobi Rupert Murdoch yang menagih martir,..

“YEAHHAHAHA!! Homicide kembali pada penyangkalan serupa bara
Kami maklumatkan penasbihan kepalan yang berhitung dengan penyeragaman bawah sadar
Bagi semua kawan yang bertahan hingga nafas penghabisan,..
Kita panjatkan pada semesta, kalam kutukan puputan,.C’MOON!!”
HO!! HO!!HO!!HO!!HO!! HO!! HO!!HO!!

Belati Kalam Profam-homicide

Ditulis malam pertama pemusnahan total para oponen
para despot yang menahun bermimpi tentang dunia yang homogen
aku jawab tantangan gelap dengan hunusan kalam puputan
bagi para sponsor pembangunan altar detasemen dua angka delapan
dengan prosa yang bernafas dalam kubangan bangunan
yang kalian rancang dibawah nisan yang kalian pancang
bagi para pagan yang mati menyusuri jalur ziarah
pada situs yang menampung gunungan pahala seamis darah
segelap pitam para penghuni neraka yang kalian ciptakan
bersama mimpi buruk yang kalian kirim lewat tingkatan
kasta dan jurang pemisah yang kalian sebut takdir
yang aku sumpah semua meruntuh lebih cepat dari hitungan jam pasir
kalian citrakan kasir sebagai petanda datangnya surga dimuka bumi
berlindung dibalik kosakata stabilitas dan konstitusi
belati para profan, dibawah serapahmu aku bersumpah
lebih baik kami mati terlupakan daripada selamanya dikenang orang karena menyerah

hunusan belati penasbihan penghabisan//

rima ini lupa berduka terluka sedemikian rupa
sehingga bernazar untuk hidup tanpa hamba dan paduka
murka tanah tua jawa yang membabi buta mencari ghurka
dari dupa kotak suara demokrasi dasamurka
karena rima ini adalah pusaka perusak tameng
para pengecut yang bersuaka dibalik rentetan angka dan pujian pada prasangka
bagi para arsitek dunia pasca keruntuhan
para idiot seperti Aidit, berkas bank yang kau audit,
invasi kultural MTV, dan Coca-cola
sejak mulut Faisol Reza sudah se-fasis pedang para GPK
dihadapan barisan nisan, ribuan tumpukan Big Mac
dan kontol intelejen perpanjangan tangan
neo-imperalis yang bersenjatakan pasar dan hutang
aku berdiri tegak dengan hunusan belati kalam profan penasbihan penghabisan
aku pemanen bernubuwat layak ribuan riff Azaghtot
bagi semua b-boy yang bersampah bacot
hingga hasratku berkarat, hingga hikayat kepalanku tamat
hingga kepala Siti Jenar berpulang pada para jasad
Marley, Malaka, Morrison , Thukul dan Sabate diatas horizon
kanon yang meluluhlantak semua antek panoptikon
rima ini bergerak dalam lamat, belatung pengerat
keyakinan para Lenin yang dilanda kemiskinan filsafat.

Boombox Monger-homicide

jika konsumen adalah raja maka industri adalah Kasparov/ dan setiap vanguard lapangan tak lebih Lenin dari Ulyanov/ mencari poros molotov / yang tak lebih busuk dari kritik kapitalisme George Soros / senyawa dari nyawa kreator dan sendawa para insureksionis berkosmos / ruang diluar buruh dan boss, dan kertas Pemilu yang kau coblos / dimana komrad ku mengganti logos dan kamus dengan batu Sisifus / memutus selang infus negara dan institusi sampai mampus / pada lahan bertendensi kooptasi Sony dan empty-V dan para radio penyedot phallus / fasis bertitah ‘harus’, mengayunkan pedang pada sayap setiap Ikarus / dengan hirarki dalam modus operandi layak Kopassus / microphone bagi kami adalah pemisah kalam dengan pembebasan yang mengkhianati / milisi tanpa seragam koloni, hiphop philantrophy seperti Upski / resureksi boombox yang sama pada Madison Park awal delapan puluhan / membawa ribuan playlist dari Chiapas, Kosovo dan Jalur Gaza / Seattle dan Praha, Checnya, Genoa, Yerusalem, Dili dan Tripoli / untuk api militansi aktivisme yang meredup pasca molotov terakhir terlempar di Semanggi / obituari dari lini terdepan milisi pada garis batas demarkasi / jelaga resistansi lulabi penghitam langit tanpa teritori / logika tanpa kuasa perwakilan yang layak dikremasi / ketika senjata bermediasi, ketika ekonomi dan valas berubah sosok menjadi tirani / jelajahi setiap kemungkinan dengan kain kafan modernisasi / prosa beraliansi dengan / dekonstruksi surga-neraka rakitan, militansi tanpa puritan / Verbal Homicide, Rock-Steady Bakunin, MC Klandestin / pada peta sirkuit boombox para B-boy kami adalah Fretilin dalam kacamata Bakin /

Makhnovist yang melukis realisme sosialis diatas kanvas Dada / Post-Mortem Hip-Hop takkan pernah berkaca bersama Fukuyama / dialektika kami tanpa radio dan visualisasi anti-HBO / tanpa agenda politik partai yang membuat Mussolini membantai D’Annunzio / juga korporasi multinasional yang menjadikanmu lubang senggama / kooptasi kultur tandingan yang berunding dalam gedung parlemen Partai Komunis Cina / yang mereproduksi Walter Benjamin ke tangan setiap seniman Keynesian / yang mensponsori festival insureksi dengan molotov cap Proletarian® / instruksi harian dalam mekanisme kontrol pergulatan menuju amnesia / lupakan Colombus, karena Bush dan Nike® telah menemukan Amerika® / inkuisisi mikrofonik dalam kuasa estetika / yang merevolusikan pola konsumsi menjadi intelektualisme organik seperti Gramsci / ekonomi membuat kami mendefinisikan otonomi pada mesin foto kopi / rima anti-otoritarian memandikan bangkai Hiphop® yang tak pernah kau otopsi / membaca peta kekuasaan seperti KRS-ONE dan MC Shan / sambil meludahi modernitas seperti Foucault diatas neraka Panopticon / ketika Moralitas® telah berubah menjadi candu seperti Marxisme® dan Agama® / maka MC mengambil mikrofon dan melahirkan tragedi dari puncak Valhalla / karena Ardan® dan kalian hanya akan melahirkan kombinasi busuk seperti Iwan / dan Djody, dikotomi antara Farakhan, Amrozy, dan Nazi / bongkar paksa setiap parodi labirin eforia sensasional Harry Roesli / B-boy semiotika artifak simultan antara ekstasi dan revolusi / setiap properti privat adalah galeri dan merubah eksistensi / menjadi pertahanan paling ofensif para Darwinis yang menolak menjadi partisan /

Tantang Tirani-homicide

[Spoken]
Ini adalah monumen tengat kesabaran dan angkara
Satu barisan, ribuan mimpi
Titik berangkat yang tak pernah dapat kami datangi kembali
Terbuang serupa fotokopian pamflet aksi di setiap perempatan
Harapan kami akan berakumulasi menyaingi nyalak senapan kalian!
Kami merayap dalam lamat menyaingi hantu-hantu pesakitan
Hingga waktu kalian mencapai tengat…

Titipan angkara mereka yang tak bisa lagi bersuara
Ini muara seluruh murka lawas yang kehilangan nyawa
Dalam hitungan langkah kami akan isi angkasa
Dengan ribuan pekik yang sama saat kalian terbakar bersama bara
Terlalu kentara manuver mereka memplot penjara
Hukum, moral, kebebasan, batas surga dan neraka
Merancang kontrol bawah sadar serupa bius pariwara
Menjagai setiap inci palang pintu modal dengan tentara
Sebelum waktu yang banal jumud berkanal
Semua momen heroik yang tak pernah tercatat dalam tanggal
Biarkan mereka lafaz semua peringatan yang mereka hafal
Setiap ayat pasal karet pertahanan para tiran berpangkal
Kebebasan yang datang saat kau tak memiliki lagi harapan
Saat opsi tersisa adalah berdiri menantang para tiran
Saat momen terhidup dalam hidupmu adalah memasang badan di tengah medan
Kawan, mana kepalan kalian?!

[Chorus]
Serupa biksu Burma di hadapan moncong senapan
Serupa malam Januari yang menandai Chiapas
Serupa seruan Chavez di depan muka Amerika
Serupa tangan Intifadha yang melempar batu di Palestina
Serupa siklus ronta kota pasca Genoa
Serupa rudal Hizbullah di daerah pendudukan
Serupa rahim setiap ibu yang melahirkan para kombatan yang menantang setiap tiran di titik nadir perhitungan

Kami menolak menjadi bidak, sekedar sekrup dan tumbal
Target pemasaran sampah industri kapitalis global
Sekedar hidup lurus dalam dikte penguasa arus
Sekedar kalian tahu kami akan bertahan sampai mampus
Kalian awetkan hegemoni dengan balsam mumi anti-teror
Kombinasi intel dan preman menebar horor
Kalian kerangkeng kami dengan pembenaran semantik
Kami rancang kalam puitik yang lebih bersenjata dari ribuan manifesto politik
Kaya semakin kaya, miskin semakin papa
Kalian dapat berlindung di balik ocehan nasib dan samsara
Lakukan apapun termasuk menjadi tuhan
Kami akan berdiri di sini, tak sendiri, hingga nafas penghabisan
Kebebasan yang datang saat kau tak memiliki lagi harapan
Saat opsi tersisa adalah berdiri menantang para tiran
Saat momen terhidup dalam hidupmu adalah memasang badan di tengah medan
Kawan, mana kepalan kalian?!

[Chorus]
Serupa kesabaran terakhir para buruh di palang pintu pabrik
Serupa panen terakhir para petani penggarap
Serupa tengat miskin kota di ujung penggusuran
Serupa pilihan terakhir Pasifis di hadapan ancaman pasar
Serupa harapan mereka yang tak bisa lagi berharap
Serupa pilihan terakhir keluarga korban kekerasan negara
Serupa rahim setiap ibu yang melahirkan para kombatan yang menantang setiap tiran di titik nadir perhitungan

[Spoken II]
Kami akan bangun kembali godam dari reruntuhan dan berangkal harapan
Keyakinan yang menyaingi semua manual langitan
Esok akan terlalu terlambat, hari ini atau tidak sama sekali!
Meski kalian coba bunuh kami berkali, kami akan lahir berkali bergenerasi
Harapan meski sebutir pasir di lautan yang menyapa setiap kawan
Dan menagih setiap jemari yang pernah menjanjikan kepalan
Untuk menggetarkan nyali para tiran!

[Soundclip dari orasi di lapangan]
Kawan-kawan, dengarkan kawan-kawan!
Komando ada di tangan saya, jangan terpancing provokasi!
Kawan-kawan, tunjukkan pada mereka kita tak akan bergeming hari ini, kawan-kawan!
Komando ada di tangan saya. Satu langkah untuk pembebasan!
Hitung mundur dari sekarang!!

Rima Ababil-homicide

karena khalayak tak pernah salah memuja thagut penampakan
maka kalian adalah terdakwa yang terlalu mendambakan
domba tanpa gembala, wujud tanpa kepala, dunia tanpa pandawa
sumpah aral kuasa tanpa palapa
merakit dunia tanpa manual tunggal
mengepal surga neraka yang manunggal
di ujung hari yang berlangit sepekat aspal
di petang para dajjal neoliberal meminta tumbal
karena buku sejarah ditulis dengan darah
dengan anggur dan nanah, dengan kotbah dan sampah
maka argumen terlahir dari kerongkongan korban
digorok dipagi buta di lapangan pedesaan
dikubur bernafas dimalam semua kutukan
menaruh rima diatas hitungan ritme pukulan rotan Brimob
pengganti aroma Smirnoff, berakhir
layak hasrat Deborg berepilog tanpa akhir
kombinasi mutakhir para gerilyawan Kashmir,
Tolstoy dan B-boy yang menari diatas pasir
hingga para aparat Gomorrah tak berdiri tanpa dipapah
hingga berhala yang kau sembah merata dengan tanah
dengan khasanah busur serapah tanpa panah
dengan ranah yang merubah kotbah yang menjadi limbah
dengan lanskap penuh kesumat, despot melaknat
penuh bigot yang bersandar pada jaminan polis dan jimat
maka kupinang kepalan pelumat
tirani valas yang tak pernah tamat memplagiat kiamat
hingga liang lahat, dengan eskalasi perang badar
membakar akar penyeragaman bawah sadar
pasca kolonial pasca neraka horizontal
pasca bumi dan langit, aku dan kau menjadi wadal
sejak para kaisar merapal mantra anti-makar
sejak para patriot tak pernah sadar menjadi barbar

rima ini ku rancang untuk menantang mitos
hegemoni rezim dewa logos
ku rancang rima ababil yang bidani holokos
jika kau bangun kastilmu tuk mendominasi kosmos

antitesa dari semua petuah para tetua
penguasa gua, gabah dan semua kutukan tak bertuah
rima ini adalah hitam merah tetesan darah
pemusnah lintah bendungan siklus hasrat dan amarah
ludah para penadah gejah yang menawar bid’ah
yang lupa melawan titah, kerajaan risalah,
pemungut arwah peluluh lantah kaki tangan kepala berhala yang ku nujum punah
serupa jalur ziarah satuan batalyon lakon
yang membantahkan konon gurita monitor panoptikon
dan jargon perluasan koloni kanon
perpanjangan netra Mossad dan agenda titipan Pentagon
agen intelejen berbisik dalam dialek dekaden
berdiskusi tentang ribuan ancaman bahaya laten
lumpen yang membangkang, hedonis yang mencoba terbang
sufi yang menjangkau terang dan anarkis yang merontakekang
rima ini adalah kontra komando, menolak berkarat
di pengujung tengat m’rancang beliung serupa tornado
untuk balans yang banal, balada dalam kanal dialog satu arah sejarah yang berkoar bertemu final
hingga satu subuh para sayap terentang, menantang menara rutan dengan kesadaran para pecundang
berembuk di pojokan selokan desa dan urban merakit plot armamen ababil sebelum mentari datang
sebelum cenayang industri keluar mencari mangsa
menuai bara dari pusara kalam dan makam wacana
kesucian taklid yang menyuburkan bencana
para penikam punggung dan para pengkhianat lantai dansa
pasca kolonial pasca neraka horizontal
pasca bumi dan langit, aku dan kau menjadi tumbal
sejak argumen hanya berkisar di pusaran selasar
surga dan neraka, kontol, isu kelentit dan biji zakar, yo
*courtesy of FunLirik.com
rima ini ku rancang untuk menantang mitos
hegemoni rezim dewa logos
ku rancang rima ababil yang bidani holokos
jika kau bangun kastilmu tuk mendominasi kosmos

Barisan nisan-homicide

matahari terlalu pagi mengkhianati
pena terlalu cepat terbakar
kemungkinan terbesar sekarang adalah memperbesar kemungkinan pada ruang ketidak-mungkinan
sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan untuk berkata “Tidak mungkin”
tanpa darah mereka mengering
sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi
sebelum semua paru disesaki tragedi
dan pengulangan menemukan maknanya sendiri
dalam pasar dan semerbak deodoran
atau mungkin dalam limbah dan kotoran
atau mungkin dalam seragam sederetan nisan
atau mungkin dalam pembebasan ala monitor 14 inci yang menawarkan hasrat pembangkangan ala Levi's dan Nokia
atau dalam 666 halaman hikayat para bigot dan despot yang menari ketika jelaga Azaghtot berangsur menjadi kepulan pitam
berselubung Michael Jordan di pojokan pabrik-pabrik makloon para produsen kerak neraka berlapis statistik
pembenaran teatrikal supermall
dan opera sabun panitia penyusun undang-undang pemilu
yang mencoba membanyol tentang kekonyolan demokrasi yang rapi berdasi
menopengi mutilasi pembebasan dengan sengkarut argumen basi tentang bagaimana menyamankan posisi pembiasaan diri dihadapan seonggok tinja
para sosok pembaharu dunia bernama Pasar Bebas dan perdagangan yang adil
untuk kemudian memperlakukan hidup seperti Akabri dan dikebiri matahari
yang terlalu pagi mengkhianati

dan heroisme berganti nama menjadi C-4, Sukhoi dan fiksi berpagar konstitusi
menjenguk setiap pesakitan dengan upeti bunga pusara dari makam pahlawan tetangga
bernama Arjuna dan Manusia Laba-laba
pahlawan dari Cobain hingga Vicious
dari berhala hingga anonimous bernama Burung Garuda Pancasila
yang menampakkan diri pada hari setiap situs menjadi sepejal bebatuan yang melayang pada poros yang sejajar dengan tameng dan pelindung wajah para penjaga makam Firaun ber-khakis
yang muncul 24 jam matahari dan gulita bertukar posisi disetiap pojokan
bahkan di kakus umum dan selokan
mencari target konsumen dan homogenisasi kelayakan

maka setiap angka menjadi ‘maka’ dan ‘makna’
ketika kita disuguhi setiap statistik dan moncong senjata dengan ribuan unit SSK untuk menjaga stabilitas bagi mereka yang akan dinetralisir karena menolak membuang buku Pantone sebagai panduan kebenaran
sejak hitam dan putih hanya berlaku dihadapan mata sinar Xerox
menolak terasuki setan dan tuhan yang mewujud dalam ocehan pencerahan kanon-kanon tumpukan Big Mac dan es krim Cone yang berseru, “Beli! Beli! Beli! Konsumsi, konsumsi kami
sehingga kalian dapat berpartisipasi dalam usaha para anak negeri yang berjibaku untuk naik haji!”

oh, betapa menariknya dunia yang sudah pasti
menjamin semua nyawa dan pluralitas dengan lembaran kontrak asuransi
dengan janji pahala bertubi
dengan janji akumulasi nilai lebih, bursa saham
dan dengan semantik-semantik kekuasaan yang hanya berarti dalam kala ketika periode berkala para representatif di gedung parlemen memulai tawar-menawar jatah kursi
dan kekuatan hanya berlaku pasca konsumsi cairan suplemen, tonik dan para bigot bertemu kawanan
dan cinta hanya akan berlabuh setelah melewati sederetan birokrasi ideologi berwarna merah, hijau, hitam, kuning, biru, merah, putih dan biru
dan merah dan putih

oh, betapa indahnya dunia yang berkalang fajar poin-poin NAFTA
sehingga pion-pion negara yang berkubang di belakang pembenaran stabilisasi nasional
menemukan pembenaran evolusi mereka dengan berpetangkan saluran-saluran pencerahan para rock-star yang lelah berkeluh-kesah
kala peluh mengering kasat dihadapan pasanggiri lalat-lalat dalam pasar
dan kilauan refleksi etalase dan display berhala-berhala
berskala lebih thagut dari ampas neraka diantara robekan surat rekomendasi para negara donor
perancang undang-undang dan fakta-fakta anti-teror
para arsitek bahasa penaklukan
para pengagung kebebasan
kebebasan yang hanya berlaku dihadapan layar Flatron
kemajemukan ponsel, demokrasi kotak suara dan pluralisme gedung rubuh

oh, betapa agungnya dunia dihadapan barisan nisan yang dikebiri matahari
dan terlalu pagi mengkhianati

maka, jangan izinkan aku untuk mati terlalu dini wahai rotasi CD dan seperangkat boombox ringkih
jangan izinkan aku mendisiplinkan diri kedalam barisan wahai bentangan celuloid dan narasi
dan demi perpanjangan tangan remah di mulutmu, anakku
jangan izinkan aku terlelap menjagai setiap sisa pembuluh hasrat yang kumiliki hari ini
demi setiap huruf pada setiap fabel yang kututurkan padamu sebelum tidur, Zahraku, mentariku!
jangan sedetik pun izinkan aku berhenti menziarahi setiap makam tanpa pedang-pedang kalam terhunus
lelap tertidur tanpa satu mata membuka
tanpa pagi berhenti mensponsori keinginan berbisa
tanpa di lengan kanan-kiriku adalah matahari dan rembulan
bintang dan sabit
palu dan arit
bumi dan langit
lautan dan parit
dan sayap dan rakit
sehingga seluruh paruku sesak merakit setiap pasak-pasak kemungkinan terbesar
memperbesar setiap kemungkinan pada ruang ketidak-mungkinan
sehingga setiap orang yang kami temui tak menemukan lagi satu pun sudut kemungkinan
untuk berkata, “Tidak mungkin”
tanpa darah mereka mongering
sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi

Matahari tak mungkin lagi mengebiri pagi untuk mengkhianati...

siti jenar hyperdrive-homicide

Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api
Bahwa di atas langit masih terdapat lapisan langit
Bahwa di atas langit masih terdapat berlapis surga tak berujung lapis
Sehingga semua makna hirarki langit hanyalah persepsi muka bumi

Aku katakan sabda batu kepada api
Di bawah tanah masih terdapat dataran tak berpijak
Di bawah tanah masih terdapat berlapis–lapis kerak neraka
Sehingga siapapun yang mengklaim dirinya pemimpin bumi adalah pendusta

Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api
Perihal bentangan kalam puputan yang lahir pasca rubuhnya dua menara
Pasca sebuah akhir zaman yang mengawali pancaroba tanah dan angkasa
Kala semua ujung senjakala pembangkangan ini bermuara

Aku katakan sebuah sabda raja batu kepada lidah-lidah api
Bahwa ada adalah tiada dan kekosongan itu bernyawa
Bahwa ketidakberujungan semesta adalah kehampaan bernyala
Bagi mereka yang bernazar hidup tanpa hamba dan paduka


Aku katakan sabda batu kepada api
Perihal makna wahdatul wujud mengusung kebesaran nama semesta
Dimana pada setiap hembusan nafas, kami bersenyawa
Kami yang tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka

Kami yang tak memiliki apapun, tak juga surga, tak juga neraka
Kami pula yang dapat menghadirkan keduanya bersenyawa di atas surga dunia
Tak ada tuan, tak ada hamba
Kehampaan ini bernyawa

Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api
Perihal riwayat hidup yang menggenang dibawah bendera klaim kebenaran
Perihal jemaat yang merasa jumawa saat merasa
Memiliki jejak riwayat kuasa yang meminta patuh semua nyawa

Aku katakan kepada kalian kutukan batu kepada api
Perihal sebuah kuasa yang berfana taklid pada kebenaran ala massifikasi
Perihal tuhan jejadian kontra kehidupan perihal datangnya kala
Mereka yang telah keluar dari sarang-sarang mereka
Dari pintu-pintu pabrik
Dari gerbang-gerbang korporasi
Dari jendela gedung-gedung parlemen
Mendatangi pintu-pintu rumah kalian
Menumbalkan semua masa depan keturunan kalian

Perihal tuhan jejadian kontra kehidupan perihal datangnya kala
Mereka yang keluar dari sarang-sarang mereka

Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api
Bahwa di atas langit sana masih terdapat berlapis surga tak berujung lapis
Sehingga semua makna hirarki langit hanyalah persepsi muka bumi
Sehingga siapapun yang mengklaim dirinya pemimpin bumi adalah pendusta

Aku katakan kepada kalian sabda batu kepada api
Semua ujung senjakala pembangkangan ini bermuara
Pasca sebuah akhir zaman yang mengawali pancaroba tanah dan angkasa
Sabda batu kepada api
Api kepada kaki kaki langit

Manunggaling kawula gusti mengusung Anok
Tanah ini berbisik perihal suaka pada kekosongan strata
Tak ada tuan, tak ada hamba
Ada adalah tiada, dan kehampaan ini bernyawa

Sabtu, 17 Juli 2010

Aku Ingin Menulis ..

aku pengen nulis ..

tapi aku bingung, maukah kalian membantuku ..

aku dulu pernah menulis ..

tapi aku bingung aku pernah nulis apa ..

aku sekarang coba menulis ..

tapi aku gak tahu aku sedang menulis apa ..

aku sekali lagi meneruskan yang ingin aku tulis ..

tapi aku masih gak tahu aku ini sedang menulis apa ..

aku masih mau mencoba untuk menulis ..

maukah kalian membantuku memberi wacana ..

-amn,18072010-

Kamis, 15 Juli 2010

aku pernah punya buku harian ..

aku pernah punya buku harian ..

sama seperti kalian ..

tapi, buku-buku itu sudah dibakar ..

aku pernah menulis dibuku harian ..

sama seperti kalian ..

tapi, buku-buku itu sdh dibakar ..


aku pernah punya enam buku harian ..

kalian mungkin lebih banyak ..

tapi buku-buku itu sudah dibakar ..


AKU PERNAH MEMBAKAR BUKU HARIAN ..

DAN BUKU-BUKU ITU TERBAKAR ..

-amn,16072010-

Senin, 21 Juni 2010

ini semua hanyalah fashion-koil (megaloblast album)

terpukau menatap wajah jelita menggoda
terkesima mendengar pidato sang pahlawan
mencari kebenaran dalam dua pilihan
untuk dianggap benar dan diakui

kita bergaya bagai patriot
peduli politik kenyataannya
kita mencari idola dalam majalah
fashion!!
fashion!!

terpaku di depan layar televisi
melihat gambar mencari suatu arti
terjebak dalam penjara tanpa terali
menghirup kebebasan yang semu ini

kita bergaya seperti patriot
peduli politik
bukankah pada kenyataannya
ini semua hanyalah fashion
fashion!!!